.:. Suatu Sore, Sendiri .:.

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Aku tersudut di ruangan kafe itu. Lalu lalang pengunjung tak merusak konsentrasiku. Tatapanku masih terpaku pada gadis itu. Gadis usia dua puluhan yang hampir tiap Minggu sore aku lihat di kursi itu. Sendiri.

Aku tahu dia tengah menunggu kedatangan seseorang yang dicintainya. Aku. Pandangannya tertuju padaku. Aku tertunduk ragu untuk membalas pandangannya. Aku merasa bersalah karena setelah sekian lama, baru sekarang bisa menepati janji. Tusukan pandangannya tak terelakkan lagi. Itu artinya aku harus bicara empat mata dengannya.

“Maafkan aku Ratih. Baru sekarang aku bisa memenuhi janjiku untuk melamarmu. Karena kamu tahu sendiri, ibumu baru meninggal sebulan yang lalu,” kataku sambil memasangkan cincin di jari Ratih, anak tiriku yang kucintai selama ini.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.o.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.