Tentang Anak Kesayangan dan Hal yang Harus Direnungkan

“Ya terserah Ibu saja. Kan, dia anak kesayangan Ibu!”

Disadari atau tidak, kalimat itu kadang terlintas dalam pikiran kita sebagai anak. Bahkan kadang ada sosok anak yang begitu frontal mengutarakan kalimat tersebut langsung pada ibunya.

Lalu, apa yang mendasarinya?

Sebenarnya banyak faktor pencetusnya. Namun, hal yang paling mendasar adalah rasa iri. Perbedaan perlakukan oleh kedua orang tua menjadi pemicunya. Padahal tanpa kita sadari mungkin mereka tidak pernah bermaksud untuk membeda-bedakan. Hanya saja kondisi keluarga yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Dan, sialnya lagi, tidak semua anak bisa menerima hal tersebut dengan dada lapang. Bagi beberapa anak, perbedaan perlakuan tetaplah sebuah usaha membedakan. Padahal anak-anak itu berpikir bahwa dia dengan saudaranya memiliki status yang sama, anak.

Pemikiran anak-anak seperti ini tanpa disadari terbawa hingga dewasa bahkan sampai tua saat orang tua mereka masih hidup di dunia. Tidak heran sampai timbul perpecahan dalam keluarga hanya karena iri atas perlakuan yang beda. Tentu ini adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun dalam keluarga.

Bagaimanapun juga keutuhan sebuah keluarga adalah sebuah bentuk bahagia yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang tidak semua orang bisa merasakannya.

Jika demikian, siapa yang bertugas mewujudkan bahagia itu?

Ya … Siapa lagi kalau bukan orang tua dan anak-anaknya. Sebagai orang tua, sebaiknya tidak membeda-bedakan, tetapi memperlakukan sesuai dengan yang semestinya. Sebagai anak pun, tidak elok rasanya jika harus ada iri hati atas perbedaan yang diterima. Selama pembedaan itu masih bisa ditolerir dan wajar, kenapa tidak berusaha untuk ikhlas saja?

Ikhlas memang tidak mudah. Namun, dengan keikhlasan menerima, siapa tahu orang tua kita lebih ikhlas mendoakan kebahagiaan kita. Sebab kita tidak pernah tahu, bisa saja diam-diam kedua orang tua kita justru mendoakan kebahagiaan kita lebih dari saudara lainnya. Bukankah bahagia tidak hanya diukur dari limpahan materi saja? Bukankah bahagia bisa tercipta jika kita bisa mensyukuri apa yang telah dicukupkan untuk kita oleh orang tua?

Sederhana, bukan?

Kurangi iri hati pada saudara, syukuri setiap yang diterima dari orang tua.

 – mo –

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *