#TigaKata – Rapuh. Sepuh. Simpuh.

Pagi yang rapuh. Air mata lupa tempatnya menyembunyikan luka. Bukan. Ini bukanlah rapuh yang sesungguhnya. Hanya rasa yang tersesat menuju doa. Bukan. Ini bukan luka yang sebenarnya. Hanya dibuat-buat agar tahu rasanya menjadi manusia. Ah! Ternyata ini bukan yang sejujurnya. Sebenarnya hanya ada rapuh.

Termakan usia sepuh dalam ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tak utuh. Hanya saja bergantian menghantam. Tak ayal kemampuan bertahan hanya menjadi harapan. Bahkan ketabahan yang tersisa tak lagi sanggup menjaga benteng kehangatan. Rasanya wajar jika akhirnya sepuh berkarib dengan rapuh.

Namun bukan berarti tak ada sisa kekuatan. Tercipta dengan dipenuhi kesabaran adalah kunci. Terbiasa menuntaskan cobaan adalah bulatnya nyali. Hanya simpuh kepada pemilik teguh yang akhirnya sedikit demi sedikit menjauhkan sepuh dari rapuh.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *