Tulis Komentarmu!

Menjelang malam ingatan saya terdampar pada suatu masa ketika baru mengikuti Kelas Menulis yang diselenggarakan di grup WA oleh Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN). Terekam jelas dalam labirin ingatan, Om Jay selaku penggagas kelas menulis membagikan tautan berisi postingan. Selanjutnya Om Jay meminta peserta untuk menuliskan komentarnya. Tujuannya untuk sekaligus berlatih menulis.

Aktivitas komentar tidak hanya berhenti di situ saja. Setelah kelas menulis dimulai, mulai dijalankan tradisi blogwalking. Lewat usaha saling kunjung, peserta berbagi semangat. Selain itu untuk menambah semangat, mereka berlomba-lomba untuk memberikan komentar positif. Tujuannya selain untuk memberikan semangat menulis, mungkin juga hanya sekadar formalitas. Mungkin, lo, ya.

Saya pribadi bukan termasuk yang rajin memberikan komentar di postingan teman-teman. Hanya beberapa saja yang memang sekiranya membutuhkan masukan atau saran perbaikan. Bukan berarti saya merasa lebih paham terkait kaidah penulisan. Bukan. Sama sekali bukan itu alasannya. Saya hanya ingin berbagi apa yang memang saya ketahui dan pahami. Untuk apa? Demi kebaikan bersama sebagai salah satu proses belajar bersama-sama dan sama-sama belajar.

Baca juga: Berwirausaha dari Suka

Namun, dalam kenyataannya komentar panjang yang saya berikan belum mampu membuat perubahan signifikan atas postingan. Beberapa teman masih menganggap saran perbaikan hanyalah pemanis komentar saja tanpa ada usaha melakukan perbaikan sesuai masukan. Tidak masalah juga, sih, sebenarnya. Toh itu adalah blog pribadi. Bebas mau menulis dan penulisannya seperti apa saja. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa apa yang sudah kita posting secara otomatis akan menjadi komsumsi publik. Dan, pembaca pun bebas memberikan komentar maupun penilaian.

“Tapi saya, kan, masih bloger pemula. Wajar jika masih banyak kekurangan.”

Maaf saya pribadi bukan sedang memperbincangkan kekurangan orang lain. Kenapa? Karena sejatinya siapa saja pasti memiliki kekurangan. Tidak ada istilah bloger pemula atau expert. Yang ada adalah bloger yang mau belajar menjadi lebih baik atau tidak. Semua bloger pada intinya adalah pembelajar sepanjang hayat.

Belajar bisa dari mana dan siapa saja. Postingan teman lain yang kita kunjungi merupakan sumber belajar. Pun kolom komentar dalam postingan kita atau teman kita. Lalu, komentar seperti apa yang bisa dijadikan sumber belajar? Tentu saja komentar positif yang berisi pembelajaran.

Memang setiap komentar harus ada pembelajarannya? Memangnya ada aturan yang melarang pembaca untuk memberikan komentar cukup dengan kata ‘mantap’ dan sejenisnya? Memang tidak ada. Namun, tidak ada salahnya memanfaatkan kolom komentar sebagai sumber belajar. Setidaknya dengan begitu akan menjadikan nilai tambah bagi peningkatan kompetensi diri sebagai seorang bloger.

Apa Saja Nilai Tambahnya?

  1. Melatih kepekaan melakukan swasunting. Kok bisa? Menulis komentar panjang di postingan teman diawali dengan membaca cermat. Melalui aktivitas ini kita akan terbiasa membaca dengan teliti. Bukan berarti mencari-cari kesalahan orang lain dalam membuat postingan. Namun, setidaknya jika kita dapat menemukan kesalahan dalam tulisan orang lain, kita juga akan lebih terasah dalam menemukan kesalahan atau kekurangan dalam tulisan sendiri. Jika hal ini kita lakukan secara terus-menerus bukan tidak mungkin kita akan lebih mudah dalam melakukan swasunting naskah buku sebelum diterbitkan.
  2. Sebagai latihan melakukan review terhadap tulisan. Melakukan review tulisan ini akan menjadi nilai tambah bagi seorang bloger. Masa sih? Iya. Saat ini profesi bloger sangat menjanjikan. Terutama bloger yang memiliki engagement tinggi. Pertumbuhan dunia digital memaksa pemilik usaha membidik calon pembelinya lewat media digital. Selain melalui iklan, blog dengan rate tinggi diyakini sebagai salah satu faktor meningkatnya penjualan produk. Dengan memberikan komentar terhadap postingan yang sudah dibaca, bukan tidak mungkin suatu saat bisa menjadi seorang reviewer andal yang banyak dicari untuk endorsement sebuah produk.
  3. Membiasakan diri membaca cermat. Komentar singkat dapat ditulis hanya dari membaca cepat. Namun, komentar panjang yang berisi pembelajaran hanya didapat dengan membaca cermat. Jika tidak cermat, sulit menemukan ‘kesalahan’ tulisan sebagai kekurangan. Pun dengan membaca cermat pembaca lebih memahami kelebihan tulisan.
  4. Menjadi modal baik untuk terbiasa memberi dan menerima masukan baik. Memberikan komentar panjang akan menjauhkan kita dari sifat antikritik. Iyakah? Komentar panjang kita terkait tulisan sebagai pembangun pemilik postingan untu
  5. Menciptakan simbiosis mutualisme antarbloger. Saling menguntungkan antara penerima dan pemberi komentar sebagai bagian proses saling belajar. Memberikan komentar panjang kita pasti dituntut paham dengan komentar yang kita buat. Caranya tentu dengan belajar, bukan? Sedangkan bagi penerima komentar, jika berupa masukan atau kritik pasti akan belajar lagi untuk mencari kebenaran. Dan, bukan pembenaran.
  6. Menciptakan diskusi yang hangat di kolom komentar. Dengan komentar panjang akan memantik diskusi. Jika ada masukan atau kritik, penulis bisa langsung menanggapi. Pada akhirnya iklim sama-sama belajar bisa tercipta di kolom komentar.

Apa Saja yang Bisa Dijadikan Bahan Komentar?

Banyak hal yang bisa dijadikan bahan menulis komentar. Tentunya terkait dengan postingan yang dikomentari dan menggunakan bahasa yang tidak terkesan menggurui. Apa sajakah itu? Berikut beberapa hal yang bisa ditulis dalam komentar postingan terutama terkait resume materi kelas menulis. Simak, yuk!

  1. Penulisan kaidah Bahasa Indonesia (ejaan, tata bahasa, pemakaian tanda baca, KBBI, dan PUEBI). Termasuk di dalamnya adalah apabila ada salah ketik atau pemakaian spasi.
  2. Dragging (lompatan) antarparagraf. Termasuk mungkin kalimat atau paragraf yang terlalu panjang;
  3. Pembuka dan penutup resume. Ada kalanya kita menjumpai resume yang tanpa pembuka dan penutup. Atau bisa saja pembuka dan penutupnya dirasa kurang greget;
  4. Elaborasi dengan pengalaman pribadi. Seringkali penulis resume masih terpaku pada materi narasumber. Kadang lupa untuk mengaitkanΒ  materi tersebut dengan pengalaman pribadi penulis;
  5. Korelasi antara resume dengan materi. Ada kalanya resume yang dibuat terlalu kebanyakan kata-kata buatan sendiri yang justru mengaburkan esensi materi. Bahkan ada kemungkinan menyimpang jauh dari materi yang telah diberikan;
  6. Pilihan kata (diksi). Namanya saja pilihan. Tentu tergantung masing-masing individu. Namun, ada kalanya penulis resume yang menggunakan kata hanya kata-kata itu saja. Padahal ada padanan ataupun sinonim yang bisa digunakan. Ini yang bisa kita jadikan pilihan saat menuliskan komentar;
  7. Gaya penulisan. Terkait poin ini bisa juga dikomentari. Bisa saja kekurangan maupun kelebihan gaya penulisan resume yang dipakai penulis;
  8. Pembelajaran/manfaat yang diperoleh di akhir pembelajaran. Terkait iniseringkali penulis lupa menuliskannya, sehingga ink bisa menjadi salah satu alternatif menulis komentar juga. Setidaknya kita sekadar ingin tahu apa manfaat mengikuti kelas menulis.
  9. Pertanyaan kepada penulis terkait pengalaman pribadi penulis dengan materi yang disampaikan di kelas menulis. Ini alternatif yang seru. Setidaknya kita tahu sudut pandang lain dari penulis yang tidak tertuang dalam tulisan;
  10. Permintaan untuk kunjungan dan komentar balik. Ini bisa juga jadi alternatif, lo. Terutama jika sama sekali tidak ada ide mau menulis komentar apa.
  11. Pemberian kata-kata motivasi agar terus menulis. Ini yang tidak kalah serunya. Pemberian kata motivasi akan sangat berarti bagi penulis resume untuk tetap istikamah menulis dan menyelesaikan tugasnya;
  12. Menuliskan pengalaman sendiri terkait pengalaman penulis, baik yang sama maupun berbeda. Alternatif komentar ini akan menjadi umpan balik positif dalam proses berbagi pengalaman.
  13. Tampilan blog. Alternatif komentar dengan menguraikan tampilan blog secara menyeluruh adalah alternatif komentar yang terbilang mudah;
  14. Silakan ditambahkan.

Jadi, sudah ada gambaran mau menulis komentar seperti apa bukan? Ayo tulislah komentarmu!

0 Comments

  1. Luar biasa mas, detil sekali analisa terkait satu hal yang mungkin bagi orang lain sederhana, “komentar”. Namun dalam dunia blogging, komentar sebagai bagian dari blogwalking memang sangat besar pengaruhnya. Terutama sebagai jalinan persahabatan antar blogger.

  2. Justru sy sangat berterimakasih atas masukan dan saran komentator karena kadang kesalahan itu nampak oleh orang lain disaat diri sendiri ga ‘ngeh’

  3. Wah terima kasih mas Momo atas pencerahannya. Saya juga seorang beginner, tp selalu berusaha untuk menulis sesuatu sesuatu dengan PUEBI. Semoga bisa menambah motivasiku untuk selalu bisa mencoba dan mencoba utk belajar menulis yang lebih baik

    1. Tetap semangat, Pak Ubed. Insyaallah dengan ketekunan akan membuahkan hasil yang bagus. Sejak awal berusaha tertib berbahasa Indonesia sesuai kaidah selanjutnya akan lebih mudah. Semangat, ya, Pak!

  4. Uraian nya mantap πŸ‘ maaf bukan memuji ya? Tapi menurut hemat saya seharusnya memang begitu. Harus ada manfaat yang diperoleh dari pelatihan ini. Kolom komentar saya pribadi suka kalau lebih dicermati. Jadi bisa belajar karena saya memang pemula tulen. Terima kasih banyak atas ilmunya πŸ‘‹

    1. Saya pribadi beranggapan seperti itu, Bu Astuti. Salah satu ikut alasan kelas menulis ya memang pengin belajar lebih banyak. Salah satunya lewat kolom komentar postingan sebagai salah satu sumber belajar. πŸ™

  5. Maafkan saya kalau jarang komentar di blog Pak Momo atau di blog bapak/ibu peserta belajar menulis. Karena saya kalau mau komentar, otomatis akan baca cermat dahulu hingga mendapat hal yang unik atau berkesan dari artikel tersebut. Maka komentar saya pasti panjang. Namun itu butuh effort lebih. Hanya komentar ke beberapa blog saja effortnya seperti menulis satu artikel hehe

    1. He he he. Santai, Pak Brian. Kita bisa pahami, kok. Saya pribadi kalau mau lebih detail komentar bisa sangat panjang sebenarnya. Hitung-hitung sarana belajar untuk diri-sendiri juga, sih, sebenarnya. πŸ™

  6. Salam, Pak Momo.
    Di mana saya bisa dapat informasi lebih lanjut tentang Komunitas Sejuta Guru Ngeblog itu? Sepertinya itu komunitas yang menarik.

  7. Rasanya hampir satu frekuensi deh terkait dengan penulisan di blog seperti yang MazMo paparkan. Namun, ada beberapa hal yang saya hindari untuk dikomentari di blog, supaya konetar saya tidak terkesan g*blok. Apa itu? Satu hal yang perlu diingat, blog adalh media digital yang dikuasai sepenuhnya oleh penulis, kasarnya bisa diedit di kemudian waktu. Jadi berkomentar pada hal-hal yang bisa segera diubah oleh pemilik blog sangat saya hindari. Jika pun saya mengomentari teknis penulisan, tidak langsung pada objek namun bersifat umum. Lha, untuk tulisan ini, komentar saya bernada curhatan, ya. habis, mau mengomentari apa lagi untuk tulisan yang sudah sebagus ini. Salam pembelajar, pribadi yang terus mau belajar.

  8. Saya cuma mau bilang terima kasih atas ilmu ngeblog ini. Belajar dua ilmu dari 1 kegiatan belajar.: belajar menulis sekaligus belajar ngeblog. Nah, pertanyaan Pak D. Susanto itu (canda atau serius? Ada he…he…nya), adalah problem saya. Akibat “typo” komentar saya delete dan harus tik ulang. Untuk menghindari banyak “typo” jadi deh komentarnya pendek.

  9. Tulisannya terlalu bagus untuk di komentari pak Domo. Jadi mau curhat saja hehehe. Tidak setiap orang bisa memiliki keterbukaan menerima komentar, ada yang senang dengan bahasa komentar yang mendayu, dengan tujuan termotivasi. Namun ada juga yang haus komentar untuk membangun pengetahuannya. Artinya, apapun komentar yang di terima, penulis harus memiliki mental keterbukaan terhadap segala komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.