Untuk Ibunya, Ibuku

Ibunya, ibuku.

Memang seperti itu adanya. Meskipun tidak akan pernah bisa menggantikan ibuku, tetapi ibunya tetaplah ibuku. Setidaknya bagiku, hati keduanya adalah lautan. Tempat bagi sampan rapuhku untuk terus bisa berlayar — sampai sekarang.

Ibunya, ibuku.

Akan tetap seperti itu. Sebab jarak mengajarkanku, bahwa cinta seorang ibu tidak harus setiap hari dalam tatap. Selalu ada cinta dari hati yang terkirim lewat doa yang tetap. Tak beda jauh dengan ibuku. Ada doa diam-diam dari ibunya untukku.

Ibunya, ibuku.

Aku mengenalinya sebagai keluarga keduaku. Dan ibunya adalah ibuku yang kedua. Bukan saja dulu. Bahkan hingga waktu, akhirnya mengajarkanku tentang arti seorang ibu — ibunya, bukan ibuku.

Ibunya, ibuku.

Tahun ini, enam tahun lalu pertama kalinya aku mengenal ibunya. Sosok perempuan tangguh yang membesarkannya dengan sebaik-baiknya. Perempuan hebat yang tak pernah lelah menjalani kehidupan. Seorang ibu yang tak pernah lupa menitipkan doa di setiap kerupuk yang pernah dijualnya, dulu. Sosok perempuan yang selalu rajin menjahit masa depan anak-anaknya lewat keikhlasan suara mesin hingga larut, dulu.

Kini kerupuk itu tak lagi ada. Pun mesin jahit yang hanya berdendang sesekali saja. Semua telah berubah menjadi doa-doa terbaik dari anak-anaknya, aku salah satunya.

Ibunya, ibuku

Terima kasih telah menjadi pelengkap sosok ibuku yang nun jauh di sana. Semoga hingga kelak bahagia tak pernah bosan berkarib dengan hidup kita.

Dariku,

Anakmu — teman hidup anak perempuanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.