Webinar Nasional Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2

Sesuai dengan jadwal, hari ini (26/4) merupakan pelaksanaan Webinar Nasional Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2. Tema dari kegiatan hari ini adalah Memaknai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara di Sekolah. Semua yang terlibat dalam PGP ini, baik itu fasilitator, pengajar praktik, dan calon peserta mengikuti webinar di channel PPPPTK IPA.

Webinar Sesi Pertama

Tepat pukul 14.00 Wita, Anggraeni Kusumadewi selaku pembawa acara membuka sesi pertama. Sesi pertama diselenggarakan melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh peserta melalui siaran langsung kanal youtube PPPPTK IPA. Selanjutnya menyampaikan tujuan penyelenggaraan kegiatan. Adapun tujuan kegiatan hari ini adalah mengajak peserta memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) melalui penerapannya di Perguruan Taman Siswa dan lima sekolah lainnya. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk memaknai praktik baik tentang pendidikan yang menuntun anak untuk mencapai kekuatan kodratnya dalam ekosistem sekolah.

Hadir sebagai narasumber dalam sesi pertama adalah Ki Priyo Dwiarso, sosok yang mengalami langsung pola pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Dalam penjelasannya, anggota Majelis Luhur Taman Siswa tahun 2011- 2020 ini memaparkan tentang pengalamannya mengikuti pendidikan. Menurut Priyo, KHD melakukan proses pendidikan melalui bermain. Priyo menceritakan pengalamannya diajarkan membuat peta pulau Jawa dari pasir. Setelah peta terbentuk, selanjutnya murid diajari untuk mengetahui posisi kota-kota yang ada dengan menggunakan batu. Menurutnya metode itu sangat efektif karena melekat sangat lama dalam ingatan.

Selain itu, Priyo juga menceritakan bahwa bermain merupakan upaya sederhana yang menyenangkan. Lebih lanjut Priyo mengatakan hal ini sesuai dengan peran guru, yaitu among yang memberikan kemerdekaan anak lahir dan batin. Guna menumbuhkan jiwa merdeka sejak dini, pelajaran diberikan muatan permainan yang menyenangkan.

Tidak lupa dalam kesempatan itu, pria yang dibesarkan di lingkungan pendopo Perguruan Taman Siswa ini menceritakan kisah yang melatarbelakangi pemikiran KHD tentang pendidikan. Kisah pilu tersebut adalah tentang putri pertama KHD yang bernama Ni Asti. Kejadian pilu tersebutlah yang akhirnya membuat KHD merumuskan pendidikan yang bersifat among, yaitu mendidik dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan dan berhamba kepada anak. Selain itu juga terkait pemikiran bahwa pendidikan keluarga adalah yang utama. Oleh karena itu, mendidik mengutamakan asas kekeluargaan.

Beberapa Catatan Penting

Dari pemaparan selama hampir satu jam tersebut, ada beberapa catatan penting yang bisa dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas sebagai seorang guru. Beberapa di antaranya, yaitu:

  • Asih, Asah, Asuh. Prinsip ini merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan kecerdasaan anak. Upaya tersebut dengan menciptakan suasana pembelajaran yang baik, yaitu pendidikan dalam suasana kekeluargaan. Dalam suasana seperti ini akan otomatis melahirkan asih (kasih), asah (memahirkan), dan asuh (bimbingan). Aktualisasi prinsip ini adalah upaya guru dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka. Selain itu juga akan berusaha menumbuhkan profil pelajar Pancasila dalam proses pembelajarannya.
  • Asas Trikon (Konvergen, Konsentris, Kontinyu). Asas ini menempatkan pendidikan sebagai bagian dari perubahan. Konvergen memiliki maksud, bahwa pendidikan bersifat terbuka. Namun demikian harus bisa memilih dan memilah perubahan yang datangnya dari luar. Konsentris mengandung makna bahwa pendidikan harus berpusat pada budaya luhur bangsa, yaitu semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan juga Pancasila. Sedangkan kontinyu bermakna pendidikan haruslah terus berjalan dari generasi ke generasi.
  • Trilogi Pendidikan (Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani). Trilogi pendidikan memberikan pemahaman kepada guru bahwa guru adalah panutan dan tuntunan bagi murid. Dengan keteladanan, akan lebih mudah menuntun murid dalam mencapai tujuan pendidikan. Selain itu, guru juga berperan sebagai motivator. Dengan menempatkan diri secara tepat dalam kehidupan murid akan mampu membangkitkan keinginan murid untuk terus belajar. Tidak kalah pentingnya juga, guru memberikan dorongan kepada murid untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Pada akhirnya, sesi pertama pun berakhir. Selanjutnya peserta pun mengikuti sesi kedua di masing-masing room. Pembagian room berdasarkan jenjang CGP.

Webinar Sesi Kedua

Pada jenjang SMP sendiri, bertindak sebagai narasumber adalah Ibu Min Hermina. Seorang guru hebat dari SMP Negeri 1 Cikampek. Dalam kesempatan itu, teman saya dalam beberapa grup menulis WA tersebut banyak berbagi praktik baik tentang kegiatan literasi di sekolahnya. Gerakan Literasi Sekolah yang diselenggarakannya sesuai dengan pemikiran KHD, yaitu memberikan ruang yang luas kepada anak untuk meningkatkan kreativitas.

Catatan penting yang saya tangkap dari paparan pemilik blog minhermina.blogspot.com tersebut adalah terkait literasi digital dan microblogging berupa pemanfaatan media sosial Instagram. Hal ini mengingat secara umum kegiatan literasi di SMP Negeri 1 Cikampek sudah saya inisiasi di sekolah. Bentuknya adalah Lapak Baca, penyelenggaraan lomba-lomba dalam rangka Bulan Bahasa, memadukan Lapak Baca dengan konsep live music, dan lain-lain.

Namun, kedua hal tersebut mencuri perhatian saya. Hal ini karena memang saya sama sekali belum mencoba melakukannya di sekolah. Dari paparan beliau, akhirnya membuat saya berpikir menduplikasinya di sekolah tempat saya bertugas. Tentu menyesuaikan kondisi murid saya. Bagaimanapun juga kondisi murid saya dengan beliau sangat jauh berbeda. Perbedaan inilah yang membuat saya harus bisa memikirkan pendekatan yang tepat agar setidaknya bisa menciptakan kegiatan yang setidaknya ‘mirip’.

Upaya Duplikasi

Lantas apa yang akan saya lakukan? Entahlah. Saya pribadi belum menemukan formula yang tepat. Pernah saat melakukan mode guru kunjung, saya mengajak murid untuk berkegiatan literasi. Bersama tim guru kunjung, saya membawa buku koleksi Kelompok Gemar Membaca SMP Negeri 3 Lingsar. Di tempat kunjungan, guru kunjung memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih bahan bacaannya. Selanjutnya meminta murid menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Secara umum kegiatan ini berlangsung lancar. Murid terlihat antusias membaca dan menyampaikan pandangannya terhadap isi buku di depan teman-temannya. Hanya saja, masih terbatas karena belum semua Tempat Kelompok Belajar (TKB) menerapkan kegiatan ini. Selengkapnya bisa disimak di channel Youtube SMP Negeri 3 Lingsar.

Satu PR besar bagi saya saat ini adalah terkait microblogging memanfaatkan media sosial. Hal ini karena tidak semua murid memiliki gawai untuk berkreasi membuat postingan di media sosial. Secara pribadi saya sangat setuju dengan kegiatan ini. Selain mengajarkan pemanfaatan media sosial secara bijak juga juga sekaligus menumbuhkan budaya positif di bidang literasi dan upaya penyebarluasan konten narasi positif di media sosial. Keterbatasan ini membuat saya berpikir tentang ide apa yang akan saya lakukan.

Tahap-tahap Implementasi

Saya pun kemudian mulai berpikir tentang upaya yang akan saya lakukan ke depan untuk menumbuhkan budaya bijak memanfaatkan internet. Dari paparan beliau, saya pun berhasil menyusun sebuah rencana ke depannya. Rencana tersebut, yaitu meminta murid di TKB untuk membuat ulasan buku yang telah dibacanya sesuai kreativitas mereka.

Adapun langkah-langkah yang akan saya tempuh adalah sebagai berikut:

Tahap Persiapan

  • Melakukan diseminasi kepada kepala sekolah dan rekan sejawat untuk memperoleh dukungan pelaksanaan, termasuk sarana dan prasarana serta waktu pelaksanaan.
  • Melakukan kolaborasi dengan orang tua murid untuk mengetahui saya dukung kreativitas murid;
  • Melakukan kolaborasi dengan murid di TKB dalam menentukan jadwal buku yang akan mereka baca;
  • Melakukan kolaborasi dengan sejawat untuk pembagian tugas bimbingan membaca dan menulis ulasan buku di masing-masing TKB.

Tahap Pelaksanaan

  • Memberikan beberapa pilihan buku bacaan kepada murid yang berasal dari koleksi komunitas Gemar Membaca SMP Negeri 3 Lingsar;
  • Memberikan bimbingan kepada murid untuk membaca buku sesuai waktu yang dijadwalkan;
  • Memberikan pilihan media kepada murid untuk menulis ulasan buku yang telah dibacanya sesuai kreativitas masing-masing;
  • Memberikan ruang kreativitas bagi murid TKB untuk memajang hasil mereka di masing-masing TKB;
  • Mendokumentasikan kegiatan melalui foto dan video di masing-masing TKB.

Tahap Akhir

  • Berkoordinasi dengan anggota tim majalah dinding sekolah terkait publikasi karya di web sekolah;
  • Memberikan kebebasan kepada tim majalah dinding untuk memilih karya yang akan dipublikasikan di web sekolah;
  • Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kepada pihak sekolah serta pihak terkait lainnya.

Rencana tersebut di atas akan saya laksanakan selama mode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Penyesuaian akan saya lakukan saat ada instruksi perubahan mode belajar. Penyesuaian terutama terkait kolaborasi dengan wali kelas masing-masing dan jadwal pelaksanaan kegiatan. Apa pun penyesuaian itu nantinya, ada harapan program ini akan bisa berjalan terus-menerus dengan sebaik-baiknya, meskipun dalam banyak keterbatasan.

Pendidikan menuntun anak mencapai kekuatan kodratnya.

Ki Hadjar Dewantara

Leave a Reply

Your email address will not be published.