YPTD, Surga Baru Menerbitkan Buku

Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) membantu guru menerbitkan buku ber-ISBN secara gratis. Benarkah demikian?

Keterampilan berbahasa pada hakikatnya merupakan kunci keberhasilan interaksi komunikasi di tengah masyarakat. Sejatinya keterampilan ini bersifat dinamis. Pada dasarnya keterampilan seseorang terus berkembang seiring waktu. Perbedaan terletak pada kemampuan masing-masing individu mengembangkannya. Dukungan lingkungan sekitar pun juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan keterampilan ini.

Keterampilan berbahasa ada empat aspek, yaitu mendengar (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Keempatnya memiliki keterkaitan erat dalam membentuk individu yang memiliki keterampilan berbahasa dengan baik. Tidak terkecuali bagi seorang guru.

Seorang guru tidak saja mengembangkan kompetensi diri dalam aspek menyimak dan membaca. Namun, juga harus mengembangkan aspek berbicara dan menulis. Melalui proses menyimak, guru dapat meningkatkan kemampuan berbicara. Sedangkan dari membaca, guru mampu mengembangkan kemampuan menulis.

Kondisi yang ada, tidak semua guru mau dan mampu menulis dengan baik. Penyebabnya adalah masih rendahnya minat guru untuk meningkatkan kompetensi menulisnya. Beberapa beranggapan menulis itu sulit. Sebagian lagi mengira menulis menghabiskan banyak waktu. Anggapan-anggapan tersebut sebenarnya hanya untuk menutupi ketidakmauan dan ketidakmampuannya dalam menulis. Padahal sejatinya sebagai sebuah keterampilan, menulis dapat diperoleh melalui latihan.

Setidaknya hal ini berlaku bagi saya pribadi. Banyak belajar menulis, semakin membuka wawasan dan haus akan ilmu kepenulisan. Ilmu bermanfaat yang pada akhirnya mengantarkan saya pada surga baru penerbitan buku ber-ISBN secara gratis, yaitu YPTD. Sungguh sebuah pengalaman baru menerbitkan buku yang menyenangkan.

Proses Menerbitkan Buku

Menerbitkan buku di YPTD memang bukan pengalaman pertama saya menerbitkan buku. Sebelumnya saya telah menerbitkan beberapa buku ber-ISBN melalui penerbit mayor. Sedikit berbagi, menerbitkan buku ber-ISBN di penerbit mayor mungkin adalah impian hampir semua penulis, termasuk guru. Ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil menembus penerbit mayor setelah melalui proses panjang yang berliku.

Berbeda dengan YPTD yang merupakan penerbit indi, penerbit mayor memiliki standar sendiri. Hal ini membutuhkan proses yang bisa dikatakan sangat panjang dan berat. Perjalanan menerbitkan di buku mayor membutuhkan kejelian dalam membaca peluang pasar. Selain itu, juga harus menunggu waktu setidaknya tiga bulan untuk mengetahui naskah diterima atau tidak.

Perjalanan masih panjang ketika penerbit menerima naskah buku. Setelah tahap penandatanganan kontrak penerbitan akan selanjutnya adalah diskusi dengan penyunting buku dari pihak penerbit. Proses penyuntingan bisa saja memakan waktu lama tergantung banyak atau tidaknya revisi. Setelah proses penyuntingan selesai, maka buku telah siap terbit. Penulis tinggal menyerahkan kepada penerbit untuk proses pemasarannya. Sedangkan peran penulis hanya sekadar membantu promosi sesuai kapasitasnya.

Jika membandingkan dengan penerbit indi, maka ada dua hal yang bisa digarisbawahi, yaitu menerbitkan buku di penerbit mayor orientasinya lebih pada profit dan popularitas. Berbeda halnya dengan menerbitkan di YPTD sebagai penerbit indi. Di YPTD orientasinya lebih pada menghasilkan karya dan menjadikan buku sebagai mahkotanya penulis. Hal ini sesuai dengan tujuan utama YPTD yang mendukung perkembangan literasi Indonesia, yaitu menggalakkan budaya menulis dan menerbitkan buku di kalangan masyarakat.

Selain itu, perbedaan lainnya terletak pada proses penerbitan buku yang terhitung cepat. Hanya membutuhkan waktu sekitar 14 hari saja termasuk di dalamnya adalah pengurusan ISBN ke Perpustakaan Nasional. Mudahnya menerbitkan buku ber-ISBN membuat saya semakin terpacu untuk melahirkan karya.

Sumber Pendanaan Penerbitan YPTD

Hal tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya. Setahu saya untuk menerbitkan buku pasti membutuhkan biaya cetak, dan lain-lain. Pertanyaan demi pertanyaan pun berentet dalam hati saya.

“Bukankah mengurus ISBN itu membutuhkan biaya? Lalu, bagaimana juga dengan biaya operasional penerbitannya? Dari mana YPTD memperoleh bantuan dana untuk mencetaknya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya. Terlebih setelah bulan Februari 2021 saya menerbitkan buku pertama di YPTD berjudul Pahlawan Literasi yang merupakan kumpulan tips menulis dalam bentuk cerita fiksi, Selanjutnya pada bulan Maret 2021 saya berhasil menerbitkan buku kedua berjudul Bagimu (Anak) Negeri melalui ajang Lomba Menulis Blog PGRI. Kebahagiaan pun membuncah atas terbitnya kedua saya tersebut di YPTD. Terlebih setelah sekian lama saya tidak menerbitkan buku. Ditambah lagi dengan tujuh naskah buku yang statusnya masih menggantung di beberapa penerbit mayor. Menerbitkan buku ber-ISBN dalam jangka waktu dua bulan merupakan kebanggaan tersendiri. Setidaknya saya telah menang melawan rasa malas menulis dan memublikasikan buku.

Setelah menerbitkan buku saya semakin memahami tentang sumber pembiayaan penerbitan buku di YPTD. Sumber dana tersebut berasal dari hibah keluarga dan juga donatur yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan literasi Indonesia. Berkat kebaikan hati donatur juga, akhirnya kesempatan saya menumpahkan ide di kepala menjadi sebuah buku ber-ISBN bukan lagi sekadar mimpi belaka. Saya yakin di luar sana banyak sekali orang yang memiliki impian yang sama. Sebuah mimpi bisa berkarya tanpa harus mengeluarkan biaya.

YPTD
Pahlawan Literasi (YPTD, 2021)
Bagimu (Anak) Negeri (YPTD, 2021)

Namun di balik keyakinan itu, sebuah pertanyaan kembali muncul di benak saya. Hal ini menyangkut keberlangsungan dan keberlanjutan program YPTD dalam membantu menerbitkan buku ber-ISBN secara gratis. Pertanyaan tersebut tentang sumber pendanaan ke depannya.

Bagaimanapun juga industri penerbitan buku semakin bertambah tantangan ke depannya. Tidak terkecuali yang harus dihadapi YPTD. Selain menjawab tantangan menjaga kualitas terbitan, baik isi maupun kualitas buku terbitan, juga terkait dengan proses penerbitan.

Tantangan YPTD ke Depan

Terkait upaya menjaga kualitas isi, tentu YPTD membutuhkan dukungan penyunting profesional. Sedangkan untuk menjamin kualitas buku terbitan, YPTD juga membutuhkan pekerja kreatif dalam mendesain sampul buku. Selain itu, terkait dengan proses penerbitan juga membutuhkan perhatian dari sekarang. Saya pribadi yakin gaung YPTD akan semakin terdengar. Hal ini melihat dari tren kepenulisan yang menunjukkan kenaikan.

Tentu hal ini akan membuat YPTD yang sejak awal memiliki komitmen membantu penerbitan untuk konsisten mendukung minat besar yang ada. Kepedulian donatir merupakan salah satu kunci menjaga konsitensi YPTD dalam menjadikan buku sebagai mahkotanya penulis. Ke depannya YPTD harus bisa semakin membuka diri terhadap kemungkinan kerjasama dengan donatur. Kerjasama tentunya profesional dalam bentuk simbiosis mutualisme.

Proses penerbitan buku di YPTD akan terus berlangsung, dan pihak donatur akan memperoleh nilai tambah dari buku yang diterbitkan YPTD. Sebagai contoh adalah buku kedua saya, Bagimu (Anak) Negeri. Awalnya saya melihat ada yang berbeda dengan sampul depan buku saya. Padahal seingat saya tidak pernah membubuhkan kotak putih di bagian sampul depan. Hingga akhirnya buku itu sampai di tempat saya.

Arti Sebuah Kepercayaan

Ada rasa haru dan bangga ketika menemukan kenyataan bahwa di sampul depan buku saya yang berjudul Bagimu (Anak) Negeri terpampang nyata logo Bank Indonesia. Selain itu, saat membuka halamannya saya semakin terharu dan bangga karena dipercaya meskipun tidak meraih juara di ajang lomba. Betapa tidak, di bagian dalam buku terdapat dua halaman narasi positif yang diletakkan di bagian awal dan akhir. Saya pun menganggapnya sebagai sebuah kepercayaan untuk mendukung penyebarluasan konten positif dari Bank Indonesia.

Logo BI di Sampul Depan Buku Bagimu (Anak) Negeri (dok. pribadi)
Konten Narasi Positif BI di Halaman Depan Buku Bagimu (Anak) Negeri (dok. pribadi)
Konten Narasi Positif BI di Halaman Belakang Buku Bagimu (Anak) Negeri (dok. pribadi)

Hal ini semakin mengukuhkan niat saya untuk menyebarluaskan nilai-nilai positif dari Bank Indonesia melalui berbagai cara. Salah satunya adalah imbauan kepada pembaca untuk turut mendukung juga dengan cara memiliki buku ini. Selain itu, upaya ini sebenarnya bisa menjadi contoh bagus bagi dinas/instansi/lembaga lain yang ingin turut menyebarkan konten narasi positif sekaligus mendukung perkembangan literasi di Indonesia. Saya yakin YPTD akan menerima berbagai bentuk kerjasama dengan tangan terbuka.

Terima kasih tak terhingga untuk YPTD yang telah berkenan mewujudkan mimpi saya. Terima kasih juga kepada Bank Indonesia yang telah mempercayakan kepada saya untuk menyebarluaskan narasi-narasi positif yang sangat berguna bagi masyakarat Indonesia.

Semangat berliterasi!

Salam Bloger Pembelajar

Sudomo
www.eigendomo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.