Zona Nyaman Calon Guru Penggerak

Zona nyaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti posisi atau keadaan fisik atau psikologis ketika seseorang merasa aman, nyaman, atau bebas dari ketidaknyamanan fisik atau stres. Masing-masing pribadi memiliki zona nyaman ini dengan versinya sendiri. Berbeda-beda dan tidak bisa disamakan. Pada saat berada di zona ini individu lebih memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri. Namun, umumnya terbatas pada satu hal saja.

Berada dalam zona nyaman memungkinkan seseorang mudah mengembangkan potensi yang ada. Namun, sulit menggali potensi lain yang mungkin sebenarnya lebih besar. Zona nyaman memberikan pengalaman yang sebatas itu saja. Kecil kemungkinan akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Zona nyaman memang mendukung kreativitas dalam berkarya. Namun, juga harus diingat bahwa berkarya pun harus mengikuti perubahan.

Berubah ke arah yang lebih baik dalam berkarya tentu merupakan idaman bagi setiap individu. Tidak terkecuali bagi Calon Guru Penggerak (CGP). Bagi CGP berada di zona nyaman bukanlah pilihan.

Mengapa demikian?

Sesuai dengan tujuan Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP), seorang CGP harus mampu menyeimbangkan zona nyamannya. Hal ini mengingat salah satu tujuan PGP, yaitu menjadikan guru menjadi agen perubahan. Agar bisa menjadi agen perubahan, tentu seorang CGP tidak hanya berkutat pada satu posisi saja. Berada pada satu posisi akan membuat CGP terlena. Keadaan terlena sangat merugikan bagi CGP untuk melahirkan ide-ide baru dalam perubahan pendidikan.

Sebagai contoh, selama ini seorang CGP memiliki zona nyaman mengajar secara konvensional. Saat mengajar secara konvensional, seorang CGP lebih merasa nyaman dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari sebagai guru. Tentu hal ini akan sangat berbahaya bagi kelangsungan pendidikan itu sendiri. Terbayang wajah pendidikan jika seandainya tetap seperti itu, bukan?

Tujuan lain dari PGP, yaitu melahirkan pemimpin pembelajaran. Agar bisa menjadi pemimpin pembelajaran, seorang CGP tentu sudah seharusnya tidak hanya mementingkan kenyamanan diri sendiri. Seorang pemimpin sewajarnya juga mampu menyelami kenyamanan individu yang mereka pimpin. Tanpa adanya hal ini, seorang pemimpin pembelajaran akan sulit menerima masukan perubahan.

Dalam hal ini yang bisa menjadi contoh adalah seorang CGP merasa nyaman saat mengajar dengan memanfaatkan perangkat teknologi. Dia tak henti-henti meningkatkan kemampuan diri untuk menguasai teknologi dalam proses pembelajaran. Dia pun akhirnya merasa bahwa proses pembelajaran yang dilakukannya adalah yang paling baik karena sesuai zaman. Namun, dia lupa dengan sekitarnya. Bisa saja sekitarnya termasuk lingkungan dengan kemampuan penguasaan teknologi yang heterogen. Berbagai tingkat penguasaan terdapat di lingkungan sekitarnya.

Jika CGP terus berkecimpung di zona nyamannya sendiri, tentu pemimpin pembelajaran tidak akan pernah tercapai. Oleh karena itu, CGP juga harus lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Kepekaan itu akan membuat seorang CGP mampu mengambil keputusan tepat sebagai pemimpin pembelajaran. Perlahan tetapi pasti, dia harus mulai mengenali dan memahami zona nyaman lingkungan sekitarnya. Dengan demikian akan lebih mudah dalam melakukan bentuk intervensi agar bisa maju bersama-sama.

Hal ini erat kaitannya dengan kolaborasi bersama lingkungan sekitar. Mungkin tidak nyaman bagi seorang CGP karena bukan zona nyamannya. Namun, CGP harus tetap menjalani hal ini sebagai upaya untuk bisa bergerak bersama-sama. Berbagi pengetahuan dan pengalaman baru adalah langkah nyata untuk bisa mengubah kondisi yang ada ke arah yang lebih baik.

Mengembangkan potensi di zona nyaman adalah keharusan, mencoba keluar zona nyaman demi perubahan adalah kewajiban.

Leave a Reply

Your email address will not be published.